Karhutla Kalimantan Selatan Melanda 12.339 Hektare, Banjarbaru Catat Kebakaran Terbanyak

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan bahwa area yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan telah mencapai 12.339,74 hektare dengan 2.332 insiden hingga tanggal 1 September 2026. Angka ini menunjukkan situasi yang cukup mengkhawatirkan, mengingat dampak yang ditimbulkan terhadap ekosistem dan kesehatan masyarakat.
Kepala BPBD Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, menyatakan pada hari Jumat, 4 September 2026, bahwa pemantauan terkait perkembangan karhutla dan titik panas di wilayah tersebut dilakukan secara rutin setiap hari. Hal ini sangat penting untuk penanganan di lapangan, terutama di daerah-daerah yang menjadi prioritas, seperti sekitar bandara.
Analisis sebaran kejadian menunjukkan bahwa Kota Banjarbaru menjadi wilayah dengan insiden karhutla tertinggi, mencatat sebanyak 474 kejadian dengan total lahan yang terdampak mencapai 1.831,80 hektare. Di sisi lain, Kabupaten Banjar melaporkan 441 kejadian, dengan luas area yang terbakar mencapai 2.737,51 hektare, menjadikannya sebagai daerah dengan luas lahan terbakar tertinggi.
Sementara itu, Kabupaten Tanah Laut melaporkan 359 kejadian dengan luas lahan terdampak 2.072,35 hektare. Diikuti oleh Hulu Sungai Selatan yang mencatat 324 kejadian dengan luas area terbakar seluas 2.203,97 hektare. Kabupaten Tapin juga mengalami 183 kejadian dengan luas terdampak mencapai 1.244,68 hektare.
Daerah lainnya yang turut mencatatkan kejadian karhutla antara lain Barito Kuala dengan 168 insiden dan luas lahan terdampak 971,70 hektare, Hulu Sungai Utara dengan 98 kejadian seluas 532,85 hektare, serta Tanah Bumbu dengan 69 kejadian seluas 197,60 hektare. Kabupaten Balangan juga mencatat 66 kejadian dengan luas area yang terbakar 196,51 hektare.
Hulu Sungai Tengah menjadi wilayah dengan 58 kejadian yang mengakibatkan dampak pada 156,11 hektare lahan. Di Kabupaten Kotabaru, tercatat 48 insiden dengan luas 58,07 hektare, sedangkan Tabalong melaporkan 29 kejadian yang mempengaruhi 135,13 hektare. Kota Banjarmasin mencatatkan 15 kejadian dengan luasan terdampak 1,45 hektare.
Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, BPBD Kalimantan Selatan juga mencatat terdapat 17.093 titik panas di wilayahnya, yang diambil dari pemantauan satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20. Data ini menjadi indikator penting dalam upaya penanggulangan karhutla.
BPBD Kalimantan Selatan menegaskan bahwa pemantauan titik panas sangat vital dalam pengendalian karhutla. Hal ini membantu dalam mengidentifikasi area yang membutuhkan perhatian khusus dan penanganan yang lebih intensif sesuai dengan kondisi di lapangan.
Ronny menekankan bahwa pengendalian karhutla memerlukan kolaborasi dari seluruh pihak. Pemantauan data, kesiapsiagaan personel, serta respons yang cepat di lapangan menjadi elemen-elemen kunci dalam meminimalkan dampak kebakaran hutan dan lahan. Upaya bersama sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan melindungi masyarakat dari efek negatif yang ditimbulkan oleh karhutla.
➡️ Baca Juga: Crisis Energi Global: IEA Mendorong WFH untuk Menghemat Bahan Bakar dan Energi
➡️ Baca Juga: Melaksanakan Olahraga Tanpa Alat dalam Mempertahankan Kebugaran Dasar Anda




