Harga Minyak Dunia Capai US$117, Ancaman Trump terhadap Iran Memicu Ketegangan Perang

Harga minyak dunia terus meroket di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pada awal sesi perdagangan Senin, 30 Maret 2026, harga minyak mentah Brent berhasil menembus angka US$117 per barel, atau setara dengan sekitar Rp 1,98 juta, berdasarkan estimasi kurs Rp 17.000 per dolar AS.
Menurut laporan dari Business Insider, harga kontrak Mei untuk minyak Brent mengalami kenaikan sekitar 1 persen, mencapai level US$114, yang setara dengan sekitar Rp 1,93 juta per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 2,5 persen, sehingga mencapai harga US$102 atau sekitar Rp 1,73 juta per barel.
Peningkatan harga minyak ini dipicu oleh pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengeluarkan ancaman terhadap Iran. Meskipun demikian, Trump juga menyatakan bahwa ada peluang untuk mencapai kesepakatan damai yang lebih baik.
Trump menegaskan bahwa AS tidak ragu untuk mengambil tindakan tegas jika proses negosiasi gagal dan jika Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk ekspor energi global, tidak segera dibuka. Ia mengungkapkan rencana untuk menghancurkan infrastruktur strategis di Iran dan mengambil alih aset energi mereka.
“Jika negosiasi menemui jalan buntu dan Selat Hormuz tetap tertutup, kami akan mengakhiri keberadaan kami di Iran dengan menghancurkan semua pembangkit listrik dan ladang minyak, termasuk Pulau Kharg. Secara jujur, saya lebih suka mengambil minyak Iran… mungkin kami ambil Pulau Kharg, mungkin tidak,” ungkap Trump dengan tegas.
Di sisi lain, ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung oleh Iran di Yaman meluncurkan serangan rudal balistik dan drone ke Israel pada akhir pekan lalu. Langkah ini menunjukkan keterlibatan langsung kelompok tersebut dalam konflik yang telah berlangsung selama lima minggu.
Danni Hewson, seorang analis pasar dari AJ Bell, menilai bahwa kondisi ini semakin memperburuk sentimen pasar global, terutama di sektor energi. Berbagai pernyataan Trump terkait potensi penyitaan minyak Iran, peningkatan kehadiran militer AS, serta keterlibatan kelompok Houthi, hanya memicu ketegangan yang lebih besar, bukannya meredakannya.
“Sentimen pasar terhadap situasi di Timur Tengah terus memburuk seiring konflik dengan Iran yang memasuki minggu kelima,” ungkap Hewson.
Kenaikan harga minyak telah menjadi fokus perhatian pelaku pasar global sejak serangan militer yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Respons Iran yang hampir menutup Selat Hormuz memperburuk kekhawatiran akan gangguan pasokan energi ke seluruh dunia.
➡️ Baca Juga: Warga Dayak Menolak Meratus Jadi Taman Nasional dan Meminta Solusi dari DPR
➡️ Baca Juga: Festival Film Pendek di Yogyakarta, Menggali Kreativitas Muda




