Trump Kirim Wapres JD Vance ke Pakistan untuk Perundingan Strategis dengan Iran

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, akan memimpin sebuah delegasi dalam pembicaraan dengan Iran yang berlangsung di Pakistan, menurut informasi dari seorang pejabat Gedung Putih. Keputusan ini muncul setelah Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Vance tidak akan melakukan perjalanan tersebut.
Dalam delegasi tersebut, JD Vance akan didampingi oleh utusan khusus Steve Witkoff serta menantu Trump, Jared Kushner. Pernyataan ini disampaikan oleh seorang pejabat Gedung Putih kepada AFP dengan syarat anonim setelah munculnya komentar dari Trump terkait susunan delegasi yang berangkat.
Trump sebelumnya mengatakan kepada ABC News bahwa keputusan untuk tidak mengirim Vance disebabkan oleh kekhawatiran keamanan yang berkaitan dengan sifat mendadak dari perjalanan itu. “Ini hanya masalah keamanan,” ujar Trump, seperti yang dilaporkan.
Sebelumnya, ABC News melaporkan bahwa Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, mengonfirmasi bahwa Vance akan memimpin delegasi Amerika ke Islamabad untuk melakukan pembicaraan dengan Iran.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump mengumumkan bahwa perwakilan AS akan tiba di Islamabad, Pakistan, pada malam hari Senin untuk melanjutkan dialog dengan Iran, dan ia kembali menyampaikan ancaman untuk menghancurkan infrastruktur penting di Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
Trump menegaskan bahwa mereka telah menawarkan “KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal,” berharap Iran akan menerima tawaran tersebut. Jika tidak, ia mengancam akan menghancurkan semua pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Ia menambahkan, “Tidak ada lagi toleransi! Mereka akan jatuh dengan cepat dan mudah, dan jika mereka menolak KESEPAKATAN ini, saya akan merasa terhormat untuk mengambil tindakan yang seharusnya telah dilakukan oleh presiden lain selama 47 tahun terakhir. Saatnya untuk mengakhiri kekuasaan pembunuh Iran!”
Meskipun negosiator utama Iran menyatakan bahwa pembicaraan terbaru dengan AS menunjukkan kemajuan, Trump juga mengindikasikan adanya “percakapan yang sangat baik” dengan Teheran. Namun, baik pihak AS maupun Iran tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai isi pembicaraan.
Usaha diplomatik untuk menghentikan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran akan terus berlangsung setelah pembicaraan intensif yang berlangsung sepanjang akhir pekan dilaporkan gagal menghasilkan kesepakatan. Para pejabat kini sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk mengadakan putaran negosiasi kedua sebelum masa gencatan senjata selama dua minggu berakhir pada 21 April 2026.
➡️ Baca Juga: Mengatasi Tekanan Bisnis dengan Menjaga Stabilitas Internal: Strategi Efektif Tanpa Kompromi
➡️ Baca Juga: Perkembangan Pariwisata di Era New Normal: Menarik Wisatawan Kembali




