DPR Menyatakan BGN Bersyukur Karena Belum Ada Tuntutan dari Orang Tua Korban Keracunan MBG

Jakarta – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP, Charles Honoris, mengungkapkan keprihatinannya mengenai tanggung jawab Badan Gizi Nasional (BGN) terkait dengan kasus keracunan yang dialami oleh peserta program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) BGN dengan Komisi IX yang berlangsung pada Kamis, 3 September 2026.
“Ketika insiden keracunan terjadi, apakah ada bentuk ganti rugi yang diberikan oleh pihak dapur SPPG atau entitas lain kepada keluarga korban? Apakah sudah ada anggota keluarga yang mengajukan gugatan perdata, misalnya? Ini merupakan tindakan melawan hukum dan lain sebagainya. Apakah ada upaya dari pihak SPPG untuk memberikan kompensasi atau permintaan maaf kepada korban?” tanya Charles, sebagaimana ia unggah dalam video di akun Instagram resminya pada Sabtu, 5 September 2026.
Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan bahwa ia belum dapat memastikan apakah ada ganti rugi yang diberikan kepada korban sebelum dirinya menjabat. Namun, selama masa kepemimpinannya di BGN, tidak ada kompensasi yang diberikan secara resmi. Menurutnya, bantuan yang ada selama ini masih bersifat individu dan tidak terorganisir.
“Saya perlu mengecek untuk kasus-kasus sebelumnya sebelum kami menjabat. Namun setelah saya hadir, bantuan yang ada sifatnya masih pribadi, bukan dalam kapasitas kelembagaan,” ungkap Sudaryono.
Di kesempatan yang sama, Charles juga menyoroti betapa beruntungnya pihak BGN dan SPPG karena tidak ada orang tua murid yang menggugat hingga saat ini. Ia menekankan bahwa situasi ini akan berbeda jika ia menjadi orang tua salah satu korban. Charles menegaskan bahwa jika ia berada di posisi tersebut, ia pasti akan mengajukan gugatan kepada SPPG dan BGN.
“Ini merupakan suatu kebetulan dan patut disyukuri bahwa orang tua murid yang anak-anaknya mengalami keracunan tampaknya tidak ada yang mengajukan gugatan. Jika saya yang mengalami, saya pasti akan menggugat SPPG dan BGN, serta meminta ganti rugi. Ini bukan hanya berkaitan dengan masalah kesehatan yang dialami, tetapi juga dampak emosional dan trauma yang ditimbulkan,” tambahnya.
Charles berharap agar BGN mulai mempertimbangkan skema kompensasi yang lebih formal bagi para korban jika kejadian serupa kembali terulang di masa depan. Menurutnya, langkah ini sangat penting untuk memberikan perlindungan dan rasa keadilan bagi anak-anak dan keluarga yang terdampak.
Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya menjadi solusi bagi peningkatan kesehatan anak-anak, namun insiden keracunan ini menunjukkan adanya celah dalam pengawasan dan tanggung jawab yang harus diperbaiki. Situasi ini menuntut perhatian serius dari semua pihak terkait, terutama untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Dalam konteks ini, penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terkait mekanisme pengawasan terhadap penyedia makanan dalam program MBG. Upaya ini tidak hanya akan melindungi kesehatan anak-anak, tetapi juga akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program-program pemerintah yang bertujuan untuk kesejahteraan anak.
Tindakan preventif harus diambil oleh BGN dan SPPG untuk mencegah terjadinya keracunan di masa mendatang. Ini mencakup peningkatan standar keamanan makanan, pelatihan bagi pihak penyedia makanan, dan penegakan sanksi bagi pihak yang lalai.
Bagi para orang tua dan masyarakat, penting untuk terus mengawasi dan memberikan masukan kepada pemerintah terkait penyelenggaraan program-program yang berkaitan dengan kesehatan anak. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi generasi mendatang.
Dalam hal ini, BGN harus proaktif dalam mendengarkan suara masyarakat dan terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan. Tanggung jawab sosial ini tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak.
Dengan adanya kasus ini, diharapkan akan ada langkah nyata dari pihak BGN untuk memperbaiki sistem dan mekanisme yang ada, sehingga tidak ada lagi korban yang jatuh akibat kelalaian dalam penyediaan makanan yang seharusnya bergizi dan aman. Ini adalah momen penting bagi semua pihak untuk belajar dan berbenah demi kebaikan bersama.
➡️ Baca Juga: Anak Muda Ciptakan Aplikasi Pendukung Kesehatan Mental
➡️ Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Rp2,85 Juta per Gram Tanpa Perubahan Signifikan




