Pertumbuhan Signifikan Penetrasi AI dalam Industri Medis dan Layanan Kesehatan di RI

Jakarta – Perusahaan teknologi kesehatan asal Belanda, Royal Philips, baru saja meluncurkan edisi ke-11 Future Health Index 2026 untuk Indonesia. Laporan ini mengungkap bahwa penerapan kecerdasan buatan (AI) telah memberikan dampak positif yang nyata bagi tenaga kesehatan, pasien, dan institusi layanan kesehatan di Tanah Air.
Temuan dalam laporan ini menandai langkah signifikan dalam adopsi dan penggunaan AI di sektor kesehatan Indonesia. Jika pada edisi sebelumnya, Future Health Index 2025 menyoroti pentingnya membangun kepercayaan dan menciptakan lingkungan yang mendukung adopsi teknologi AI, laporan tahun ini berfokus pada dampak nyata yang telah ditimbulkan oleh AI dalam praktik sehari-hari.
“Tenaga kesehatan di Indonesia melaporkan adanya peningkatan dalam alur kerja dan proses diagnosis yang lebih efisien, kapasitas yang lebih besar untuk melayani pasien, akses informasi yang lebih baik, serta pengurangan tekanan di tempat kerja,” ungkap Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, dalam pernyataannya pada Senin, 14 September 2026.
Meski demikian, laju adopsi AI di kalangan tenaga kesehatan ternyata lebih cepat dibandingkan dengan kesiapan pelatihan, integrasi sistem, pemantauan, serta tata kelola yang diperlukan untuk memastikan penerapan AI berlangsung aman dan konsisten dalam skala yang lebih luas.
Astri menekankan bahwa diskusi mengenai penggunaan AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki fase baru. Pertanyaan yang muncul tidak lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan, tetapi lebih pada bagaimana teknologi tersebut telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan memberikan layanan kepada lebih banyak pasien.
Dia menegaskan, prioritas saat ini adalah untuk memastikan bahwa manfaat awal dari penggunaan AI dapat berkontribusi pada peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan. Untuk itu, penting agar AI terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang terpercaya, serta didukung oleh peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan.
“Yang paling penting adalah tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti dari setiap layanan kesehatan,” tambahnya.
Dilaporkan bahwa tenaga kesehatan di Indonesia merasakan manfaat signifikan dari penerapan AI, terutama terkait dengan peningkatan kapasitas dan efektivitas dalam memberikan layanan kesehatan.
Hampir 90 persen tenaga kesehatan, atau sekitar 88 persen, mengakui bahwa AI telah meningkatkan efisiensi alur kerja mereka. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 71 persen secara global. Selain itu, 87 persen tenaga kesehatan melaporkan akses yang lebih cepat terhadap hasil diagnosis, dan 82 persen menyatakan bahwa AI telah mempercepat proses pengambilan keputusan terkait diagnosis.
➡️ Baca Juga: Sido Muncul Umumkan Dividen Tunai Senilai Rp1 Triliun, Cek Jadwalnya
➡️ Baca Juga: CapCut World Hadir di 170 Pasar, Menjangkau 660 Juta Kreator di Tiga Benua




