Pentagon Ajukan Rencana Pengambilan Uranium Diperkaya Iran kepada Trump

Pentagon baru-baru ini mengajukan sebuah rencana kepada Presiden Donald Trump terkait pengambilan material nuklir berupa uranium yang telah diperkaya milik Iran. Informasi ini diungkapkan oleh sejumlah sumber yang dihubungi oleh media pada hari Rabu.
Rencana yang diajukan ini merupakan respons terhadap permintaan Trump dan melibatkan operasi yang sangat rumit, berisiko tinggi, dan akan memakan waktu yang cukup lama. Operasi tersebut akan memerlukan pengerahan ratusan hingga ribuan pasukan serta peralatan berat yang akan dikirim melalui udara untuk mengekstraksi material radioaktif—sebuah tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam sejarah militer.
Salah satu sumber anonim yang mengetahui rincian rencana ini menjelaskan kepada media bahwa untuk melaksanakan misi tersebut, diperlukan peralatan khusus untuk menggali, menembus beton serta pelindung timbal. Prosesnya akan melibatkan upaya untuk mencapai bagian dasar silo yang menyimpan kontainer berisi material nuklir dan mengeluarkannya untuk kemudian diterbangkan keluar dari lokasi tersebut.
Dalam sebuah wawancara yang dilakukan dengan CBS pada hari Selasa, Trump enggan memberikan tanggapan apakah ia akan menganggap operasi ini sebagai suatu keberhasilan jika tidak berhasil mengeluarkan cadangan uranium yang telah diperkaya dari Iran.
Trump juga menyatakan bahwa ia tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan tersebut, menambahkan bahwa keberadaan uranium itu sangat dalam dan akan menjadi tantangan besar bagi siapa pun yang mencoba mengambilnya.
Pada tahun lalu, tepatnya malam tanggal 13 Juni, Israel melancarkan serangan terhadap Iran dengan tuduhan bahwa negara tersebut tengah menjalankan program nuklir militer yang dirahasiakan. Iran membantah tuduhan ini dan merespons dengan serangan balik.
Selama periode 12 hari, kedua belah pihak saling melakukan serangan. Amerika Serikat melancarkan serangan tunggal terhadap fasilitas nuklir Iran pada malam tanggal 22 Juni, yang diikuti oleh serangan rudal dari Teheran ke pangkalan Al Udeid milik AS di Qatar pada hari berikutnya.
Kemudian, pada tanggal 23 Juni, Trump mengumumkan bahwa Israel dan Iran telah mencapai kesepakatan gencatan senjata untuk menghentikan “perang 12 hari” yang telah berlangsung.
Setelah itu, pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel kembali meluncurkan serangan terhadap beberapa target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang mengakibatkan kerusakan signifikan serta korban jiwa di kalangan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran melakukan serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS yang ada di Timur Tengah, menunjukkan eskalasi ketegangan yang terus berlanjut antara kedua negara.
➡️ Baca Juga: Beli Jaecoo J5: Siapkan Kesabaran untuk Pengalaman Terbaik Anda
➡️ Baca Juga: Mob Sulfur Cube: Kendaraan Paling Cepat di Minecraft yang Bikin Pemain Heboh




