Kimberly Ryder Ungkap Biaya Tinggi Rumah Sakit, Pilih Lahiran di Bidan Sebagai Solusi Cerdas

Keputusan Kimberly Ryder untuk memilih melahirkan di bidan telah menarik perhatian publik dan menciptakan banyak diskusi. Di tengah fenomena selebritas yang cenderung memilih rumah sakit dengan fasilitas kelas atas, langkah Kimberly dianggap unik dan memicu perdebatan di kalangan netizen.
Kimberly menjelaskan bahwa pilihan tersebut tidak diambil secara sembarangan. Ia berbagi bahwa banyak teman dan orang terdekatnya yang mengalami perubahan rencana saat proses persalinan di rumah sakit. Contohnya, mereka yang merencanakan persalinan normal tiba-tiba harus menjalani operasi caesar.
Pengalaman tersebut membuatnya mempertimbangkan alternatif yang lebih sesuai dengan kebutuhannya sebagai calon ibu.
“Saya sudah mendengar banyak cerita dari teman-teman yang melahirkan sebelum saya, banyak dari mereka yang awalnya merencanakan persalinan normal, tetapi akhirnya harus melakukan operasi caesar,” tuturnya dalam sebuah video di Instagram.
Kimberly juga menyoroti fakta bahwa beberapa kasus persalinan melibatkan intervensi medis tambahan yang mungkin tidak selalu diperlukan.
“Contohnya, ada yang akhirnya melahirkan secara normal, namun harus diinduksi meskipun belum mencapai HPL. Setelahnya, bayinya harus dibawa ke NICU, padahal kondisi sang bayi sehat-sehat saja,” tambahnya.
Menurut Kimberly, perubahan dalam prosedur medis dapat berdampak signifikan terhadap biaya persalinan. Ia mencatat bahwa biaya yang awalnya direncanakan bisa melonjak drastis jika terjadi intervensi tambahan.
“Biaya yang seharusnya hanya sekitar Rp20 juta bisa membengkak menjadi Rp60 juta. Itu membuat saya dan mantan suami berpikir, ‘Mungkin lebih baik di bidan saja,'” jelasnya.
Kimberly, yang sebelumnya menikah dengan Edward Akbar, menekankan bahwa kualitas layanan bidan tidak boleh dianggap remeh. Ia berpendapat bahwa banyak orang masih percaya bahwa layanan kesehatan yang mahal selalu lebih baik, padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
“Selain itu, bidan tersebut juga sudah berpengalaman membantu proses persalinan sebelumnya, termasuk saat melahirkan adiknya dari suami saya,” ungkap Kimberly.
Pengalamannya saat melahirkan anak pertama di Inggris juga memperkuat pandangannya. Ia mencatat bahwa di negara tersebut, bidan merupakan tenaga utama dalam proses persalinan di rumah sakit.
“Di Inggris, saat di rumah sakit, kita hanya bertemu dengan bidan. Tidak ada interaksi dengan dokter sama sekali,” tegasnya.
➡️ Baca Juga: Teknologi DWDM Meningkatkan Kecepatan Internet di Indonesia Tanpa Infrastruktur Baru
➡️ Baca Juga: Apakah Tangisan Keluarga Menyiksa Jenazah? Simak Penjelasan Buya Yahya di Sini




