Trump Kritik Presiden Israel: Mengapa Ia Disebut Lemah dan Menyedihkan?

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengeluarkan kritik keras terhadap Presiden Israel, Isaac Herzog. Dalam pernyataan yang disampaikan pada Minggu, 22 Maret, ia menyebut Herzog sebagai sosok yang lemah dan menyedihkan. Trump juga menuduh Herzog telah berbohong terkait janji pengampunan untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Trump mengungkapkan, “Ia telah berulang kali mengatakan kepada saya, lebih dari sekali, bahwa ia akan memberikan pengampunan kepada Netanyahu, tetapi kenyataannya ia tidak jujur.” Pernyataan ini disampaikan kepada Channel 14 Israel dan dilaporkan kembali oleh berbagai media pada 23 Maret 2026.
Lebih jauh, Trump menegaskan bahwa Herzog tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang diperlukan dalam situasi yang dihadapi Israel saat ini.
Menurut Trump, persidangan yang melibatkan Netanyahu terkait tuduhan korupsi justru mengalihkan perhatian dari masalah yang lebih mendesak, yaitu situasi perang yang sedang berlangsung.
“Bibi harus lebih fokus pada perang, bukan terjebak dalam hal-hal yang tidak penting,” tegasnya.
Trump terus menyoroti isu ini dengan serius. Sebelumnya, ia juga telah menyatakan bahwa Herzog adalah sosok yang lemah dan tidak berfungsi dengan baik, serta menuduhnya memanfaatkan isu pengampunan sebagai alat untuk kepentingan politik.
Seorang pejabat senior dari Israel membantah pernyataan Trump. Ia menyatakan bahwa Herzog tidak pernah berjanji untuk memberikan pengampunan dan telah menginformasikan kepada penasihat Trump bahwa setiap permintaan akan dievaluasi berdasarkan prosedur hukum yang berlaku.
Netanyahu sendiri tengah menghadapi sejumlah tuduhan korupsi yang telah berlangsung lama, termasuk dugaan penerimaan keuntungan dan fasilitas sebagai imbalan atas kebijakan regulasi dan dukungan diplomatik kepada pengusaha kaya serta pemilik media.
Terkait dengan ketegangan antara AS dan Iran, Trump enggan memberikan keterangan lebih lanjut mengenai rencana pasukan AS untuk menargetkan atau menguasai infrastruktur minyak dan gas Iran. Ia hanya menyatakan bahwa saat ini tidak ada jawaban pasti yang dapat diberikan.
Sebagai informasi tambahan, serangan gabungan antara AS dan Israel terhadap Iran dilaporkan dimulai pada 28 Februari. Serangan tersebut telah mengakibatkan kematian sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balik menggunakan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
➡️ Baca Juga: Bahlil Percepat Implementasi Campuran Etanol ke BBM Terkait Lonjakan Harga Minyak Dunia
➡️ Baca Juga: Hukum Walimatus Safar Sebelum Ibadah Haji: Menyikapi Antara Sunnah dan Tradisi




