RI Menjalin Kerja Sama dengan Tiga Negara untuk Pemasok Bahan Baku Plastik Baru di Tengah Krisis Global

Jakarta – Saat ini, sejumlah negara penghasil plastik di seluruh dunia tengah menghadapi tantangan serius terkait krisis pasokan bahan baku. Gangguan yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah telah menghambat rantai pasokan global, yang mendorong Indonesia untuk mencari alternatif baru dalam pengadaan bahan baku plastik.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa selama ini Indonesia sangat bergantung pada impor naphta dari Timur Tengah sebagai bahan baku utama untuk produksi bijih plastik. Namun, gangguan yang ditimbulkan oleh situasi perang di kawasan tersebut telah mengakibatkan ketidakstabilan pasokan.
“Plastik yang kita produksi selama ini memanfaatkan bahan baku yang diimpor, khususnya naphta dari Timur Tengah. Karena dampak perang, pasokan dari daerah itu otomatis terhambat,” ungkap Budi saat berkunjung ke Kantor Kemenko Perekonomian di Jakarta, pada Senin, 13 April 2025.
Sebagai langkah untuk mengatasi krisis ini, pemerintah tengah aktif mencari sumber pasokan alternatif dari beberapa negara, termasuk India, Amerika Serikat, dan beberapa negara di kawasan Afrika. Budi menyatakan bahwa komunikasi dengan produsen di negara-negara tersebut telah dilakukan untuk menjajaki kemungkinan kerjasama.
“Kami sudah berkomunikasi dengan para produsen, dan kami memang sudah mendapatkan respon, meskipun jumlah yang bisa dipenuhi mungkin terbatas dan memerlukan waktu karena adanya perubahan rute pengapalan yang lambat akibat perang,” tambahnya.
Budi juga mencatat bahwa pemerintah berupaya mengoordinasikan perwakilan perdagangan di luar negeri untuk membantu pencarian sumber pasokan alternatif dari berbagai negara.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa krisis bahan baku plastik ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga bersifat global. Negara-negara produsen lainnya, seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura, juga mengalami gangguan dalam proses produksi mereka.
Mengenai pasokan bahan baku plastik yang baru, Budi menegaskan bahwa proses impor masih memerlukan waktu untuk dapat direalisasikan, sehingga saat ini industri masih harus mengandalkan stok yang ada.
“Impor dari ketiga negara tersebut sudah dalam proses, tetapi memerlukan waktu. Saat ini, kami masih bergantung pada stok yang tersedia,” ujarnya.
Pemerintah berupaya mempercepat kedatangan pasokan baru untuk meredakan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha dan pedagang yang mulai merasakan dampak dari kenaikan harga plastik.
Namun demikian, Budi menyatakan bahwa ia belum dapat memberikan kepastian kapan harga plastik akan kembali stabil. Hal ini sangat bergantung pada perkembangan situasi global dan kelancaran pasokan dari negara-negara alternatif tersebut.
➡️ Baca Juga: Industri Halal Nasional Tumbuh 8% di Kuartal Pertama 2025
➡️ Baca Juga: Strategi Kesehatan Harian untuk Menghindari Pegal Akibat Duduk Terlalu Lama Saat Bekerja




