Nike Rencanakan PHK Besar-besaran pada 2027 Akibat Penurunan Pendapatan yang Signifikan

Nike tengah melanjutkan proses restrukturisasi bisnisnya di tengah usaha CEO Elliott Hill untuk memperbaiki performa perusahaan. Produsen equipment olahraga asal Amerika ini berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang lebih luas dan juga merombak struktur operasionalnya di tingkat global.
Keputusan ini diumumkan setelah Nike mengeluarkan proyeksi yang menunjukkan penurunan pendapatan tahunan yang jauh lebih signifikan daripada yang diperkirakan oleh para analis.
Hingga saat ini, perusahaan belum memberikan rincian mengenai jumlah posisi yang akan terpengaruh serta lokasi pekerjaan yang akan mengalami dampak. Pemberitahuan kepada karyawan terkait PHK ini direncanakan baru akan dimulai pada tahun 2027.
Restrukturisasi terbaru ini merupakan kelanjutan dari berbagai langkah efisiensi yang telah diambil sebelumnya oleh Nike, termasuk PHK yang diumumkan di tahun ini. Langkah ini diperkirakan akan menghasilkan penghematan biaya sekitar US$2,5 miliar hingga tahun fiskal 2031, dengan sebagian besar penghematan diharapkan tercapai pada tahun fiskal 2029 dan 2030.
Nike juga berencana untuk mengubah struktur operasional globalnya. Perusahaan akan menyederhanakan operasionalnya menjadi tiga kawasan utama, yaitu Amerika, Asia Pasifik dan China Raya, serta Eropa, Timur Tengah dan Afrika.
Di tengah proses perubahan ini, Nike memperkirakan bahwa pendapatan untuk tahun fiskal 2027 akan mengalami penurunan dalam kisaran satu digit tinggi. Proyeksi ini lebih buruk dibandingkan dengan perkiraan analis yang sebelumnya memperkirakan penurunan sekitar 2 persen.
CEO Nike, Elliott Hill, mengungkapkan bahwa sektor bisnis olahraga mereka masih belum cukup kuat untuk menutupi tekanan dari beberapa lini lainnya. “Bisnis Nike Performance kami belum cukup besar untuk mengimbangi tantangan yang kami hadapi di Nike Sportswear, merek Jordan, dan Greater China,” ujar Hill, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Hill menambahkan bahwa pemulihan dari sektor bisnis yang masih lemah tersebut akan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Sebagai bagian dari upaya memperbaiki strategi produk, Nike juga sengaja mengurangi peluncuran produk retro Jordan.
“Menghidupkan kembali area bisnis Nike yang lemah ini akan memakan waktu,” jelasnya.
Analis dari GlobalData, Neil Saunders, berpendapat bahwa perubahan struktur yang dilakukan oleh Nike tidak secara otomatis menunjukkan adanya masalah dalam rencana restrukturisasi mereka. Namun, langkah ini menunjukkan bahwa model operasional yang ada saat ini dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan bisnis.
“Tidak ada yang secara inheren salah dengan rencana restrukturisasi tersebut, tetapi hal ini menunjukkan bahwa model operasional Nike saat ini tidak lagi selaras dengan tujuan yang ada. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa perubahan ini tidak dilakukan lebih awal,” ungkap Saunders.
➡️ Baca Juga: Infinix Note 40 Pro vs Tecno Camon 30 Pro: Jagoan Kamera Mid-Range
➡️ Baca Juga: Skuad Terbaik Timnas Indonesia Berisiko Gagal Tampil di FIFA ASEAN Cup 2026




