Rupiah Melemah ke Rp17.939 per Dolar AS, Apakah Akan Tembus Rp18.000 Kembali?

Jakarta – Pada awal perdagangan hari Selasa (13/10/2026), nilai tukar rupiah kembali mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan mata uang Garuda ini semakin menarik perhatian di tengah ketidakpastian yang melanda pasar keuangan global, dinamika geopolitik, serta kebijakan suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral AS.
Pelemahan rupiah ini mengikuti penutupan yang tidak menguntungkan pada sesi perdagangan sebelumnya. Para pelaku pasar masih terus memantau beberapa sentimen, baik dari luar maupun dalam negeri, yang dapat memengaruhi nilai tukar, termasuk penguatan dolar AS serta perkembangan ekonomi di Indonesia.
Data perdagangan pada Selasa pagi menunjukkan bahwa rupiah dibuka dengan pelemahan sebesar 26 poin atau setara dengan 0,15 persen, sehingga berada di level Rp17.939 per dolar AS. Posisi ini lebih rendah dibandingkan dengan penutupan sebelumnya pada hari Senin, yang tercatat di Rp17.913 per dolar AS.
Pada perdagangan hari Senin, rupiah ditutup mengalami penurunan sebesar 14 poin dari posisi sebelumnya di Rp17.899 per dolar AS. Dengan pembukaan yang lemah pada hari Selasa ini, nilai tukar rupiah semakin mendekati angka psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures yang juga merupakan pengamat di bidang ekonomi, mata uang, dan komoditas, memproyeksikan bahwa pergerakan rupiah akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari Selasa.
“Untuk perdagangan besok (Selasa), saya memperkirakan mata uang rupiah akan fluktuatif tetapi akan ditutup dalam rentang Rp17.910 hingga Rp17.960,” ungkapnya dalam keterangannya pada hari Senin (12/10/2026).
Selama pekan ini, Ibrahim memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran antara Rp17.780 hingga Rp18.060 per dolar AS. Proyeksi ini menunjukkan potensi bagi rupiah untuk menembus level Rp18.000 jika tekanan terhadap mata uang ini semakin meningkat.
Dari sisi eksternal, beberapa faktor yang menjadi perhatian adalah pergerakan indeks dolar AS, perkembangan konflik di Timur Tengah, serta kemungkinan gangguan terhadap rute pelayaran minyak. Ketegangan geopolitik, termasuk insiden yang terjadi di sekitar Selat Hormuz, juga menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi distribusi energi secara global.
Harga minyak dan situasi konflik di kawasan tersebut dapat berimbas pada sentimen di pasar keuangan. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed, terutama yang berkaitan dengan kemungkinan perubahan pada suku bunga acuan di AS.
➡️ Baca Juga: Fanny Kondoh Sampaikan Pesan Mengharukan untuk Suami Usai Nonton ‘Baby Udon’ di Gala Premiere
➡️ Baca Juga: Pegadaian Championship 2026/27 Resmi Dimulai, Dukung Generasi Muda Melalui Sepak Bola Nasional




