Iran Tegaskan Ancaman kepada AS: Invasi Darat Tak Boleh Membiarkan Musuh Selamat

Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, memberikan peringatan tegas bahwa tidak ada pasukan musuh yang akan dibiarkan hidup jika Amerika Serikat melancarkan invasi darat ke wilayah Teheran.
Hatami menegaskan, “Jika musuh berupaya melakukan operasi darat, tidak ada seorang pun yang akan selamat.” Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah program yang ditayangkan oleh stasiun televisi pemerintah, IRIB, pada hari Kamis.
Dia juga menyatakan bahwa pemimpin militer telah memberikan instruksi kepada komando operasional untuk secara teliti memantau pergerakan pasukan AS dan memberikan respons yang tepat ketika diperlukan.
“Memantau pergerakan dan tindakan musuh dengan saksama adalah hal yang sangat penting, dan kita harus mempersiapkan rencana untuk menghadapi metode serangan mereka dengan tepat waktu,” tegasnya.
Hatami menambahkan, “Bayang-bayang perang harus dihapuskan dari negara kita, dan keamanan harus dijamin untuk semua rakyat.”
Pada tanggal 28 Maret, sebuah laporan dari The Washington Post mengungkap bahwa Pentagon sedang mempersiapkan kemungkinan untuk melakukan operasi darat di Iran, sejalan dengan pengiriman ribuan pasukan AS ke Timur Tengah. Namun, pelaksanaan rencana ini masih menunggu keputusan dari Presiden AS, Donald Trump.
Pejabat-pejabat AS mengungkapkan bahwa rencana ini bisa menandai “fase baru dalam perang” yang mungkin akan jauh lebih berbahaya bagi pasukan AS dibandingkan dengan empat minggu pertama pertempuran yang telah berlangsung.
Diskusi di Pentagon mencakup kemungkinan operasi yang akan menargetkan Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor minyak Iran, serta serangan di dekat Selat Hormuz untuk menetralisir ancaman terhadap jalur pelayaran.
Pejabat menambahkan bahwa misi yang direncanakan tersebut bisa berlangsung hingga “beberapa pekan.”
Sejak perang dimulai pada akhir Februari, tercatat tiga belas tentara AS tewas dan lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka dalam serangan di kawasan tersebut.
Ketegangan regional terus meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi tempat penempatan aset militer AS. Serangan balasan ini menyebabkan banyak korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
➡️ Baca Juga: Infinix Note 40 Pro vs Tecno Camon 30 Pro: Jagoan Kamera Mid-Range
➡️ Baca Juga: Head-to-Head: iPhone 15 vs Samsung Galaxy S23, Mana yang Lebih Worth It?




