Evolusi Identitas Tionghoa Indonesia: FSI Menyajikan Wawasan Mendalam dan Terkini

Identitas Tionghoa Indonesia terus berkembang seiring dengan dinamika sosial dan politik yang terjadi di tanah air. Dari masa-masa pembatasan hingga era terbuka saat ini, ekspresi ketionghoaan semakin menunjukkan keberanian dan kepercayaan diri dalam kerangka keindonesiaan.
Transformasi ini menjadi tema utama dalam diskusi yang bertajuk “Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia”. Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia, Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia, dan Forum Sinologi Indonesia. Dalam forum tersebut, para akademisi dan tokoh masyarakat berkumpul untuk mengkaji dan mendiskusikan perubahan yang terjadi dalam identitas Tionghoa di Indonesia.
Johan Herlijanto, Ketua Forum Sinologi Indonesia, menegaskan bahwa posisi identitas Tionghoa di Indonesia telah lama terintegrasi dengan identitas nasional. Menurutnya, sepanjang sejarah, komunitas Tionghoa di Indonesia telah memilih untuk menjadi bagian dari Indonesia dan mengedepankan nilai-nilai keindonesiaan dalam aspek politik dan budaya. Pernyataan ini disampaikan pada hari Minggu, 1 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa pilihan tersebut bukan hanya sekadar simbol, melainkan juga merupakan keputusan politik yang disertai komitmen nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran ini menjadi sangat penting di tengah pengaruh budaya global yang semakin kuat, baik dari negara-negara Barat maupun dari Tiongkok.
Dr. Thung Julan, seorang peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Negara, menjelaskan bahwa identitas selalu terbentuk melalui proses interaksi sosial yang kompleks. “Identitas bukanlah sesuatu yang tunggal; ia lahir dari interaksi, akulturasi, dan asimilasi yang berlangsung selama bertahun-tahun,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejarah panjang migrasi telah melahirkan kelompok peranakan dengan karakteristik yang unik di Indonesia. Namun, variasi dalam arus kedatangan menjadikan pengalaman identitas setiap kelompok Tionghoa berbeda-beda.
Budiman Tanah Djaja dari Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia mencatat bahwa perubahan yang paling signifikan terjadi setelah Reformasi 1998. Generasi muda yang tumbuh dalam suasana kebebasan kini memiliki lebih banyak ruang untuk mengekspresikan identitas mereka.
“Bagi generasi pasca Reformasi, identitas Tionghoa menjadi lebih fleksibel dan progresif,” ujarnya. Ia juga menyebut istilah “Chindo” sebagai contoh bagaimana generasi baru memahami ketionghoaan dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan relevan.
Sementara itu, Christine Susanna Tjhin menekankan bahwa identitas juga dipengaruhi oleh perspektif internasional. Ia menjelaskan berbagai istilah seperti huayi, huaren, dan huaqiao yang membedakan latar belakang kewarganegaraan dalam konteks Tiongkok.
Dalam konteks perubahan yang terjadi, semua pembicara sepakat bahwa identitas Tionghoa Indonesia akan terus mengalami perkembangan. Namun, benang merah yang menghubungkan semua adalah keinginan untuk menjadikan keindonesiaan sebagai fondasi utama dalam merawat keberagaman dan kebangsaan.
➡️ Baca Juga: Kolaborasi UEU dengan University of Technology Sarawak untuk Benchmarking
➡️ Baca Juga: Wamensos Ungkap 24 Juta Rakyat Indonesia Hidup di Bawah Garis Kemiskinan, 3,17 Juta Miskin Ekstrem
