Jakarta – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo kini mengambil langkah strategis dengan merubah fokus bisnis dari sekadar produksi dan ekspor minyak sawit mentah (CPO) menjadi pengembangan produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan perekonomian secara lebih signifikan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, mengungkapkan bahwa pergeseran fokus ini bertujuan untuk mengembangkan produk turunan, seperti mengolah tandan buah segar (TBS) menjadi produk lanjutan, termasuk Bio Propylene Glycol (BioPG). Inovasi ini diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi bagi perusahaan.
“Proses hilirisasi ini berpotensi meningkatkan nilai tambah hingga belasan kali lipat. Ini menjadi motivasi utama kami,” tuturnya pada Kamis, 26 Maret 2026. Ia juga menyampaikan bahwa perusahaan saat ini sedang bersiap untuk memulai pembangunan (groundbreaking) fasilitas pengolahan sawit terpadu yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatra Utara.
Jatmiko menekankan bahwa rencana pembangunan fasilitas tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan yang sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional. Ini juga sesuai dengan arahan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), yang mendorong pengembangan sektor-sektor strategis.
“Program ini merupakan bagian dari ekosistem hilirisasi yang lebih luas, mencakup tidak hanya sektor sawit, tetapi juga lintas sektor sesuai arahan Danantara,” tambahnya.
Meskipun demikian, Jatmiko menegaskan bahwa pelaksanaan groundbreaking masih akan menunggu keputusan dari pemegang saham. Ia memperkirakan kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam waktu dekat, tepatnya setelah periode Lebaran. “Kami sudah melakukan persiapan yang matang. Tinggal menunggu lampu hijau dari pemegang saham, dan kami berharap bisa melaksanakannya pasca-Lebaran ini,” jelasnya.
Pada tahap awal pengembangan, PalmCo akan membangun beberapa fasilitas utama yang direncanakan akan beroperasi secara bertahap mulai akhir tahun 2028.
Fasilitas yang akan dibangun meliputi pabrik margarin dan shortening dengan kapasitas sekitar 40.000 ton per tahun, serta pabrik Cocoa Butter Equivalent (CBE) dan Cocoa Butter Substitute (CBS) yang memiliki kapasitas sekitar 34.000 ton per tahun.
Selain itu, PalmCo juga berencana untuk mengembangkan fasilitas pengolahan lanjutan lainnya yang akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global produk berbasis sawit.
Pembangunan pabrik biodiesel dengan kapasitas sekitar 450.000 ton per tahun juga akan menjadi bagian dari pengembangan yang dilakukan, terutama untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Proyek hilirisasi minyak sawit yang direncanakan ini diproyeksikan mampu memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja yang signifikan.
➡️ Baca Juga: Brad Pitt Nempel Terus dengan Ines de Ramon di Premier F1
➡️ Baca Juga: Laptop Tangguh dengan Build Quality Militer (MIL-STD 810G) untuk Kinerja Maksimal
