Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mengumumkan dimulainya gelombang ketujuh dan kedelapan dari Operasi True Promise 4 pada hari Minggu, 1 Maret 2026. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap agresi yang terus menerus dari Amerika Serikat dan pemerintahan Israel.
Dalam pernyataannya yang dirilis pada Minggu sore, sekitar pukul 16.00 waktu setempat, IRGC menginformasikan bahwa serangan balasan dalam skala besar telah diluncurkan terhadap berbagai target musuh.
Pejabat Iran berjanji akan segera merilis rincian lebih lanjut, termasuk gambar dan pembaruan terkait operasi yang sedang berlangsung.
Tindakan balasan ini terjadi setelah dua hari agresi yang mengakibatkan lebih dari 200 orang tewas, termasuk lebih dari 145 anak-anak akibat serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Provinsi Hormozgan, menurut laporan dari Palang Merah.
Sebagai reaksi terhadap serangan tersebut, IRGC telah meluncurkan empat gelombang besar serangan presisi yang menargetkan instalasi militer di wilayah yang diduduki, termasuk Tel Aviv dan Haifa, memaksa warga Israel untuk mencari perlindungan di tempat yang lebih aman.
Laporan menyebutkan bahwa sejumlah pejabat tinggi, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, terpaksa bersembunyi di bunker yang diperkuat untuk melindungi diri mereka dari ancaman yang semakin meningkat.
IRGC juga mengarahkan serangan kepada pangkalan-pangkalan AS yang ada di seluruh kawasan Timur Tengah, termasuk Armada Kelima di Bahrain, serta beberapa instalasi penting di Qatar dan Uni Emirat Arab, sebagai bentuk tanggapan atas dukungan mereka terhadap agresi terhadap Iran.
Eskalasi situasi ini terjadi di tengah berlangsungnya negosiasi tidak langsung mengenai program nuklir antara Teheran dan Washington, yang dimediasi oleh Oman. Pembicaraan terbaru yang berlangsung di Jenewa berakhir dengan kedua pihak mengakui adanya “kemajuan signifikan,” meskipun upaya diplomatik ini kini terancam oleh meningkatnya ketegangan militer.
Sebelumnya, Iran juga menuduh AS dan Israel terlibat dalam aksi terorisme dan pembunuhan terencana terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Dalam sebuah pernyataan resmi pada hari Minggu, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa serangan gabungan oleh kedua negara pada tanggal 28 Februari 2026 melanggar prinsip dan norma hukum internasional, termasuk Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pernyataan tersebut menegaskan, “Tindakan teroris yang dilakukan oleh AS dan rezim Zionis (Israel), yang meliputi pembunuhan terencana terhadap Pemimpin Tertinggi dan pejabat tinggi lainnya melalui agresi militer terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Iran, merupakan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seluruh norma dan prinsip internasional.”
➡️ Baca Juga: Kegiatan Ekonomi Kreatif di Masa Pandemi: Menciptakan Peluang Baru
➡️ Baca Juga: Program Beasiswa untuk Pelajar Berprestasi di Daerah
