Gus Anta Dukung PKB dalam Kajian Konsisten terhadap Kitab Mbah Hasyim

Gus Anta Maulana, sebagai cicit dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, memberikan apresiasi kepada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atas komitmen mereka dalam mengadakan kajian kitab karya pendiri Nahdlatul Ulama setiap bulan Ramadan. Kegiatan ini dianggap penting dalam menjaga warisan intelektual dan spiritual yang ditinggalkan oleh Mbah Hasyim.

Apresiasi tersebut diungkapkan Gus Anta saat menghadiri acara penutupan kajian kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim yang berlangsung di Kantor DPP PKB, yang terletak di Jalan Raden Saleh No. 9, Jakarta Pusat, pada tanggal 12 Maret 2026.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada PKB. Kebangkitan dan ketekunan PKB dalam membedah karya Mbah Hasyim setiap bulan Ramadan sangat saya hargai,” ucap Gus Anta.

Menurutnya, kajian kitab ini memiliki signifikansi yang besar, terutama dalam mendalami adab dalam pencarian ilmu dan cara memilih guru yang tepat. Ia menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam karya KH Hasyim Asy’ari bersifat universal dan relevan bagi berbagai kalangan, tidak hanya terbatas pada santri.

“Pentingnya menggelar kajian ini adalah untuk menekankan adab dalam mencari ilmu dan guru. Pesan-pesan yang disampaikan Mbah Hasyim bersifat universal, tidak hanya untuk kalangan santri, tetapi juga untuk masyarakat luas,” tambahnya.

Gus Anta juga menilai bahwa pemikiran KH Hasyim Asy’ari sangat visioner. Banyak pesan dalam karya beliau yang masih relevan dan seakan telah memprediksi kondisi zaman yang kita hadapi saat ini.

“Dari kitab beliau, kita bisa melihat bahwa Mbah Hasyim memiliki pandangan yang jauh ke depan. Beliau sudah meramalkan banyak hal yang sekarang kita alami,” jelasnya.

Ia menyoroti salah satu pesan penting dari kitab tersebut mengenai kehati-hatian dalam memilih guru. Dalam era perkembangan teknologi saat ini, fenomena berguru secara instan melalui kecerdasan buatan (AI) harus disikapi dengan bijak.

“Salah satu poin yang saya ingat dari kajian ini adalah pentingnya kehati-hatian dalam memilih guru. Saat ini, banyak yang berguru kepada AI, yang tentu saja tidak tepat,” ungkapnya.

Di kesempatan yang sama, Gus Anta juga menjelaskan mengenai proses panjang kodifikasi karya-karya KH Hasyim Asy’ari yang dilakukan oleh ayahnya, KH Ishomuddin Hadzik. Proses ini dimulai ketika KH Ishomuddin menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

“Proses kodifikasi karya-karya Mbah Hasyim dilakukan oleh ayah saya saat beliau mondok di Lirboyo. Itu adalah sebuah tantangan yang tidak mudah,” jelasnya.

➡️ Baca Juga: Informasi Pengumuman jalur mandiri Undip 2025 & info UKT

➡️ Baca Juga: Teori Kepribadian Humanistik: Memahami Diri Anda

Exit mobile version