Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, baru-baru ini menuduh Iran terlibat dalam apa yang dia sebut sebagai ‘terorisme ekonomi’ dengan cara mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Vance juga mengingatkan bahwa tindakan balasan dari Washington mungkin akan dilakukan jika Iran terus melanjutkan aksinya.
Dalam sebuah wawancara dengan pembawa acara Fox News, Brett Baier, Vance menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam menghadapi gangguan tersebut.
“Jika Iran terlibat dalam terorisme ekonomi, maka kami akan menerapkan kebijakan bahwa tidak ada kapal dari Iran yang akan diizinkan untuk berlayar keluar,” jelasnya, seperti dikutip dari laporan terbaru.
Dia menambahkan bahwa mantan Presiden Donald Trump telah memberikan contoh bahwa permainan ini dapat dimainkan oleh kedua belah pihak, yang berarti bahwa sikap AS akan semakin tegas jika ketegangan terus meningkat.
Vance juga mengomentari perundingan terbaru antara pejabat AS dan Iran. Ia menjelaskan bahwa telah terjadi kemajuan signifikan pada akhir pekan, namun menegaskan bahwa langkah selanjutnya kini berada di tangan Teheran.
Berbicara kepada Fox News pada hari Senin, Vance mengungkapkan bahwa keputusan saat ini sepenuhnya ada di pihak Iran.
“Saya benar-benar melihat bahwa pilihan ada di tangan Iran, karena kami telah menawarkan banyak hal. Kami juga telah secara jelas menjelaskan batasan-batasan yang kami miliki. Ada dua isu utama di mana Presiden AS menekankan bahwa kami tidak akan berkompromi,” tuturnya.
Vance merujuk pada dua isu tersebut, yaitu pengendalian AS atas uranium yang telah diperkaya oleh Iran dan adanya mekanisme verifikasi untuk memastikan bahwa Iran tidak mengembangkan senjata nuklir di masa depan.
Ia menegaskan bahwa Iran diharapkan untuk menunjukkan fleksibilitas dan menerima syarat-syarat utama dari AS, termasuk pengawasan terhadap uranium yang diperkaya serta sistem verifikasi untuk memastikan tidak ada pengembangan senjata nuklir.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis untuk pengiriman minyak dunia. Gangguan di kawasan ini dapat berdampak signifikan terhadap pasokan energi global dan harga minyak.
Saat ini, AS dan Iran masih terlibat dalam perundingan untuk menghindari eskalasi lebih lanjut setelah beberapa pekan konflik. Washington mendorong penerapan pembatasan keras terhadap program nuklir Iran, sementara Iran menuntut pengurangan tekanan dan pengakuan atas posisinya dalam negosiasi.
➡️ Baca Juga: Truk Tetap Vital, Namun Tanpa Inovasi Ini Akan Tertinggal di Era Modern
➡️ Baca Juga: Keenan Nasution Cabut Kasasi Lagu Nuansa Bening dan Akhiri Sengketa Secara Damai
