Sejumlah pengusaha menceritakan pengalaman mereka dalam menghadapi tantangan finansial yang cukup besar, termasuk utang sebesar Rp 350 miliar, 800 cek kosong, dan tagihan mencapai US$15 juta.
Meskipun mengalami berbagai kesulitan tersebut, mereka berhasil membangkitkan kembali usaha mereka dan menghentikan ketergantungan pada utang.
Diversifikasi strategi mereka mencakup menjual aset produktif untuk melunasi kewajiban, bertransformasi dari distributor menjadi produsen, membangun kepercayaan di pasar, menciptakan kemitraan yang kuat, serta memanfaatkan skema pembiayaan yang lebih terukur dan sesuai dengan prinsip syariah.
Pengalaman menarik ini terungkap dalam sebuah diskusi bertajuk “75 Tahun Dahlan Iskan: Dilema Pengusaha, Utang Tambah Beban, Tidak Berutang Tak Berkembang”, yang berlangsung di Hotel Shangri-La Surabaya.
Acara ini dipandu oleh Dahlan Iskan, seorang jurnalis dan pengusaha terkemuka yang juga pernah menjabat sebagai Menteri BUMN. Diskusi ini mempertemukan pengusaha-pengusaha besar yang pernah menghadapi masalah utang, tetapi kemudian berhasil membangun kembali bisnis mereka.
Topik yang dibahas dalam talk show ini berkisar pada pertanyaan apakah utang dapat berfungsi sebagai mesin pertumbuhan, atau justru menjadi jebakan ketika ekspansi tidak diimbangi dengan kemampuan dalam mengelola kewajiban.
Tri Dawang, seorang pengusaha di bidang teknologi informasi, membagikan pengalamannya mengenai situasi serupa. Pada tahun 2021, bisnisnya terjebak dalam utang yang cukup besar. Seperti banyak pengusaha lainnya, dia percaya bahwa untuk bertumbuh, bisnis perlu berutang.
“Namun, setelah melunasi semua utang yang ada, saya menyadari bahwa bisnis masih dapat tumbuh dengan manajemen yang lebih disiplin tanpa harus terus menambah utang,” kata Tri saat memberikan keterangan pers, yang dikutip pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Pengalaman yang hampir serupa juga dialami oleh Mulyono, seorang pengusaha dari Sragen yang telah menjalankan Turrima Agrobiotech selama hampir tiga dekade. Perusahaan ini fokus pada produksi pupuk organik berbasis Humic Acid.
Selama 17 tahun, bisnisnya terlihat berkembang pesat. Namun, Mulyono menyadari bahwa bisnis tersebut sebenarnya rentan karena sangat tergantung pada utang.
Setelah bergabung dengan Keluarga Besar SyaREA World pada tahun 2017 dan mengikuti program coaching berbasis syariah, utangnya berhasil dilunasi pada tahun 2018. Sejak saat itu, dia memilih untuk tidak lagi menjadikan utang sebagai pendorong utama pertumbuhan.
Usahanya tetap menunjukkan kemajuan, termasuk ekspansi ke pasar Afrika dan Timur Tengah. Di Afrika, selama dua tahun pertama, dia harus membangun kepercayaan pasar melalui uji coba produk pupuk senilai sekitar Rp 2 miliar, tanpa menerima pembayaran selama proses verifikasi.
➡️ Baca Juga: Iran Siapkan Tindakan Tegas Hadang Ekspor Minyak dari Timur Tengah ke AS dan Israel
➡️ Baca Juga: Serangan Rudal Iran ke AS: Dampaknya terhadap Stabilitas Ekonomi Global yang Perlu Diwaspadai
