Iran Menolak Berunding dengan AS dan Melanjutkan Konflik yang Tak Terpercaya

Iran menegaskan ketidakpercayaannya terhadap Amerika Serikat (AS) dan mengindikasikan penolakan untuk terlibat dalam perundingan dengan negara tersebut. Teheran menyatakan akan terus melanjutkan ketegangan yang ada di antara kedua pihak.

“Tidak ada kepercayaan pada AS, dan tidak ada alasan untuk melakukan negosiasi,” ungkap Mohammad Mokhber, yang merupakan ajudan mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam sebuah wawancara di televisi pada Rabu, 4 Maret 2026.

Mokhber menegaskan bahwa Iran memiliki kapasitas untuk melanjutkan konflik bersenjata, mengacu pada pengalaman panjang yang diperoleh selama delapan tahun Perang Iran-Irak dari 1980 hingga 1988.

“Sejarah membuktikan bahwa kita tidak takut akan peperangan, dan kita tidak akan gentar untuk melanjutkannya,” tegasnya dengan penuh keyakinan.

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersumpah untuk mengambil tindakan balasan atas serangan yang diluncurkan oleh AS dan Israel pada hari Sabtu.

Serangan tersebut menyasar berbagai lokasi di Iran, termasuk di ibu kota, Teheran, yang mengakibatkan kerusakan besar serta korban sipil. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut.

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal ke arah wilayah Israel dan fasilitas militer AS yang berada di Timur Tengah.

IRGC menuduh AS dan Israel telah menyerang tempat-tempat seperti sekolah, rumah sakit, stadion, restoran, dan gedung pernikahan, dengan maksud menciptakan kepanikan di kalangan masyarakat Iran. Mereka menyatakan bahwa jumlah korban jiwa di kalangan warga sipil telah melebihi angka 700 orang.

➡️ Baca Juga: Penelitian tentang Dampak Sosial Media pada Kesehatan Mental

➡️ Baca Juga: Pramono Terima Laporan Dugaan Sejoli Mesum di Taman 24 Jam

Exit mobile version