Perempuan di era modern sering kali mengemban berbagai peran dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat berfungsi sebagai profesional di lingkungan kerja, mengambil keputusan dalam tim, dan sekaligus mengurus tanggung jawab pribadi di rumah.
Dalam konteks tersebut, perbincangan mengenai kesetaraan, keberagaman, dan kepemimpinan yang inklusif semakin sering diangkat dalam dunia profesional. Mari kita lihat lebih dalam mengenai hal ini.
Belakangan ini, konsep interseksionalitas mulai mendapatkan perhatian dalam diskusi mengenai karier dan kepemimpinan. Interseksionalitas mengamati bahwa identitas seseorang tidak terpisah, melainkan saling berkaitan, mencakup aspek seperti gender, usia, latar belakang pendidikan, hingga kondisi sosial ekonomi, yang semua itu memengaruhi pengalaman individu dalam bekerja dan berkembang.
Isu ini menjadi fokus dalam diskusi kepemimpinan inklusif yang mengangkat tema “Interseksionalitas: Menavigasi Berbagai Lapisan Hambatan dalam Kehidupan Profesional”. Diskusi ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Perempuan Internasional 2026 oleh UNIQLO dan Indonesia, bekerja sama dengan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE).
Percakapan seputar interseksionalitas juga sangat terkait dengan konsep Keberagaman, Keadilan & Inklusi (DEI) yang semakin banyak dibicarakan di berbagai lingkungan kerja. Namun, pendekatan interseksional menantang organisasi untuk memperluas pemahaman tentang keberagaman, tidak hanya dari apa yang terlihat di permukaan.
Wita Krisanti, Direktur Eksekutif IBCWE, menyampaikan bahwa keberagaman memiliki banyak lapisan yang sering kali tidak terlihat. “Interseksionalitas ini penting untuk dipertimbangkan saat kita membahas atau menganalisis aspek dari keberagaman, keadilan, dan inklusi,” tuturnya di Jakarta, baru-baru ini.
Ia menambahkan bahwa sering kali keberagaman dipahami hanya melalui aspek yang tampak, seperti usia atau penampilan fisik. “Selama ini, kita cenderung melihat keberagaman dari sudut pandang yang terlihat langsung. Misalnya, seseorang yang beruban, seseorang yang memiliki penampilan fisik berbeda, atau mereka yang dianggap lebih tua sehingga mendapat prioritas duduk di transportasi umum. Namun, ada juga yang dengan penampilan fisik yang tampak lebih muda, tetapi tidak berarti mereka lebih kuat atau lebih sehat secara fisik,” jelasnya.
Interseksionalitas menawarkan sebuah kerangka untuk memahami bagaimana berbagai identitas berinteraksi dan menciptakan pengalaman yang unik bagi setiap individu. Dengan memahami lapisan-lapisan ini, kita dapat lebih baik dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan memberdayakan semua orang, tanpa memandang latar belakang mereka.
Misalnya, dalam lingkungan kerja, perempuan yang juga merupakan penyandang disabilitas mungkin menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami disabilitas. Ini menunjukkan bahwa analisis yang terlalu sederhana tentang keberagaman tidak akan cukup untuk memahami realitas yang kompleks.
Organisasi perlu menggali lebih dalam untuk melihat bagaimana kebijakan dan praktik mereka bisa lebih inklusif. Ini termasuk bagaimana mereka merekrut, mempertahankan, dan mempromosikan karyawan dari berbagai latar belakang. Melalui pendekatan interseksional, mereka dapat mengidentifikasi dan mengatasi hambatan yang mungkin tidak terlihat pada pandangan pertama.
Pentingnya interseksionalitas juga terletak pada kemampuannya untuk menyoroti ketidakadilan yang mungkin dialami oleh individu dengan identitas yang berlapis. Misalnya, seorang perempuan kulit berwarna mungkin menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dengan perempuan kulit putih, bukan hanya karena gender, tetapi juga karena ras. Memperhatikan hal ini akan membantu organisasi dalam membuat keputusan yang lebih adil dan efektif.
Dengan mengembangkan pemahaman tentang interseksionalitas, organisasi dapat menciptakan inisiatif yang lebih tepat sasaran. Ini dapat mengarah pada program peningkatan keterampilan yang lebih efektif, penciptaan jaringan dukungan yang lebih baik, dan pengembangan kebijakan yang lebih inklusif.
Di era di mana kesetaraan gender dan keberagaman menjadi semakin penting, interseksionalitas memberikan alat untuk mendorong perubahan yang lebih dalam. Dengan mengakui dan menghargai keragaman pengalaman, kita dapat bekerja menuju dunia kerja yang lebih adil dan berkelanjutan.
Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, penting untuk terus mengedukasi diri dan orang lain tentang konsep interseksionalitas. Dengan cara ini, kita dapat mendorong kesadaran dan tindakan yang lebih kuat dalam mendorong kesetaraan di tempat kerja dan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan memanfaatkan pendekatan interseksional, kita dapat bersama-sama menciptakan perubahan yang positif, bukan hanya bagi perempuan, tetapi untuk semua individu yang berkontribusi pada masyarakat yang lebih inklusif dan adil. Mari kita dorong percakapan dan tindakan yang akan membawa kita ke arah kesetaraan yang lebih baik untuk semua.
➡️ Baca Juga: Perkembangan Ekonomi Digital di Indonesia: Peluang dan Tantangan
➡️ Baca Juga: Tergugat UGM Tolak Permintaan Penggugat Tunjukkan Dokumen, Mediasi Soal Ijazah Jokowi Berujung Buntu
